Batu Megalith peninggalan leluhur milik Nenek Moyang 5 Marga di Nias Barat Hilang

Hiligoe, Sekarang Desa Sisarahili I Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat menurut sejarah merupakan tempat berkumpulnya 5 Marga ( Gulo, Waruwu, Zebua, Hia dan Zai ), pada zaman sebelum Penjajahan belanda datang ke Pulau Nias.
Sebelum masa Kolonial Belanda Nenek Moyang 5 marga di Moro’o si Lima ina atau 5 marga tersebut berkumpul, kemudian seiring semakin banyaknya jumlah Penduduk mereka menyebar di wilayah Kecamatan Mandrehe bahkan sebagian sampai di Wilayah Nias Utara sekarang,
Sama halnya dengan kebudayaan masyarakat Nias di berbagai tempat lainya seperti Gomo Nias Selatan sekarang, Nenek Moyang kelima marga ini membuat batu-batu ukir yang dipahat sebagai simbol kekuatan, kesaktian dan kesejahteraan.
Warga kelima marga punya cerita khusus ketika Belanda datang ke Indonesia dan masuk ke wilayah pelosok Nias, dimana warga si 5 marga tersebut pernah di pekerjakan paksa oleh Belanda dan yang sangat amat Hina nya sehingga akhirnya warga masyarakat memberontak dan melawan ketika hutang pajak kepada Belanda dimasukan dalam bambu dan di ikatkan pada leher seperti sebuah kalung dan harus dipakai kemanapun pergi. Dari sinilah awal perlawanan itu yang telah memakan korban jiwa yang dikenal dengan istilah “ HORÕ DAWA “
Sisarahili Hiligoe memang menyimpan banyak nilai sejarah kebudayaan dengan Batu Megalit nya mulai dari Batu Tekhembõwõ yang punya cerita mistik sebelum agama Kristen di terima oleh masyarakat setempat dan batu2 megalith lainya yang jumlahnya puluhan berada di Hiligoe Desa Sisarahili I sebagai salah satu Objek wisata hingga saat ini.
Pada saat perang melawan penjajah yang dikenal dengan istilah “ HORÕ DAWA “ penjajah mengepung kampung Hiligoe dan membakar rumah-rumah penduduk pada malam hari hingga tidak ada yang tersisa, beberapa batu megalit yang berada di halaman rumah dengan panasnya api membuat batu-batu itu rusak, pecah dan sebagian masih ada yang utuh hingga saat ini. Batu-batu Megalit peninggalan inilah yang sampai saat ini dilestarikan sebagai salah satu sejarah Kebudayaan dan peradaban masyarakat zaman dahulu.
Setelah Pemekaran Kabupaten Nias, wilayah Kecamatan Mandrehe menjadi wilayah Kabupaten Nias Barat Provinsi Sumatera Utara. Pemkab Nias Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan telah mendata aset-aset ini untuk di pelihara dan di Lestarikan karena memiliki nilai sejarah.
Kejadian Kehilangan batu Megalit.
Pada akhir Bulan Oktober 2017 diperkirakan antara tanggal 30 – 31 Oktober ketika masyarakat pergi ke kebun disekitar naha mbanua lama ( Hiligoe ) melihat bahwa salah satu batu telah hilang dan kemudian diinformasikan kepada Masyarakat, Kepala Desa dan Tokoh masyarakat, adat bahwa salah satu Batu Megalit sudah tidak ada ditempat, sejak saat itu masyarakat dengan bebagai upaya mencari informasi kemana batu tersebut hingga dilaporkan kepada pihak penegak hukum dan kepada Pemerintah setempat. Hingga saat ini belum ditemukan bagaimana keadaan batu megalit tersebut, karna itu dihimbau kepada Masyarakat untuk mencari informasi dan melaporkan kejadian ini kepada perangkat Desa dan pihak Penegak Hukum, diharapkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara di Medan dan Pemerintah Kabupaten/Kota se Kepulauan Nias untuk mengawal pencarian dan melakukan tindakan pencegahan pencurian benda-benda kuno bersejarah dan kepada Penegak Hukum untuk menghentikan dan menangkap pelaku yang diduga tidak mungkin dilakukan oleh satu orang, kalau ini tidak dihentikan dan menjerat pelaku dengan Hukum yang berlaku diprediksi kelompok pencuri benda-benda kuno akan semakin merajalela di Pulau Nias.

Foto Gapura Pintu Masuk menuju Lokasi Wisata batu Megalit di Desa Sisarahili I Hiligoe Kecamatan Mandrehe.

Batu Megalit di Hiligoe Desa Sisarahili I

 

Ketika warga masyarakat Desa Sisarahili I dan dan Zuzundrao beserta utusan dari kampung 5 Marga berkumpul dan berdoa bersama memohon kiranya orang-orang yang telah mencuri Benda Peninggalan Sejarah ini bertobat dan batu megalit yang telah dicuri bisa ditemukan.

Upaya pencarian jejak hingga ke pinggir sungai Moro’õ

Lokasi Batu-Batu Megalit Sisarahili Hiligoe

 

Comments

Posted in: Berita

Leave a Comment (1) ↓